Seminar Virtual Tentang Kartini di Jepara, Mengkaji Luasnya Jangkauan Pemikiran Sang Emansipator

Minggu, 18 April 2021 11:19 WIB

Share
M Iskak Wijaya dan Indria Mustika. Foto: SB

POSKOTAJATENG, JEPARA – Para aktivis di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, akan menggulirkan seminar virtual untuk memperingati 142 tahun kelahiran RA Kartini. Acara yang dikemas lewat seminar virtual tersebut mengusung tema Surat-Surat yang Tetap Bersuara pada hari Selasa (20/4/2021) mendatang. Seminar ini untuk mengkaji bagaimana luasnya jangkauan pemikiran sang emansipator yang melewati zamannya.


Lima narasumber akan berpartisipasi pada acara ini yaitu Hadi Priyanto seorang penulis, Murniati (aktivis perempuan), M Iskak Wijaya (budayawan), Indria Mustika (guru), Abdi Munif (pegiat budaya). Sementara moderator Ulil Abshor, aktivis literasi sejarah Jepara.

BACA JUGA: Membentuk Karakter Anak, Sentuh dengan Cinta dan Selaraskan Logika

[page-pagination]


Sedang lembaga yang terlibat dalam kerja bersama ini adalah Yayasan Kartini Indonesia, Yayasan Perempuan Mandiri, Forum Penulis Jepara Literasi, TeraSS Omah Seni, Sanggar Kebudayaan BTS, MGMP Tata Busana Provinsi Jateng, TV Jepara – SMKN 3 Jepara, Lesbumi Jepara, Rupa Reka Production serta Lembaga Pelestari Sejarah Jepara. Seminar ini juga didukung oleh Dinas Periwisata dan Kebudayaan serta Diskominfo Jepara.


Menurut Iskak Wijaya, dari Yayasan Kartini Jepara, Kartini sejak berumur 12,5 tahun harus menjalani pingitan, diisolasi dalam gerak dan ruang terbatas di rumahnya sendiri.
“Meski tubuhnya seolah terpenjara, namun tidak untuk pemikirannya,” ujar Iskak Wijaya, seperti dilansir Suarabaru.id, Minggu (18/4/2021).
Sebab Kartini menuliskan perjuangan dan “perang” pemikiran melalui surat-suratnya sehingga pergulatan gagasannya menjadi abadi.

BACA JUGA: Lakukan Swab Antigen di Rest Area, Polres Tegal Temukan Pengemudi Tak Bawa Surat Keterangan Sehat

[page-pagination]


Menurut Iskak Wijaya, bidang dan jangkauan pemikiran Kartini sangat luas, dari persoalan tentang kesadaran kesetaraan perempuan, spirit kebangsaan, penguatan tradisi-budaya, penguatan ekonomi dan pemasaran produk lokal, kritik pendidikan dan sistem keningratan, dialog antarbangsa, hingga pemberdayaan ukir dan batik, dan beberapa perhatian lainnya.
Oleh sebab itu menurut Iskak Wijaya, Kartini jangan hanya dilihat sekedar sebagai figur atau tokoh, melainkan sebagai ‘gagasan yang hidup’; sebuah nilai pembebasan yang diusung oleh seorang perempuan yang meninggal pada usia 25 tahun.


“Sosok Kartini itu bukan hanya untuk diwariskan, dilestarikan, pun dipuja-puja di setiap tanggal 21 April dengan bersanggul dan berbusana adat. Namun argumentasi Kartini itu masih memungkinkan untuk menjadi salah satu kekuatan besar dalam wacana emansipasi dan pemberdayaan bangsa di Indonesia,” tambahnya.

Halaman
1 2
Reporter: Aji
Editor: Admin Jateng
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler