Tradisi 'Udik-Udikan' atau Tabur Uang Receh Masih Bertahan di Tengah Masyarakat Kendal

Rabu, 26 Mei 2021 16:05 WIB

Share
BEREBUT: Masyarakat berebut uang receh dalam tradisi udik-udikan. Foto: Haifanny

KENDAL, POSKOTAJATENG.CO.ID - Tradisi Udik-udikan adalah tradisi sedekah dengan cara menaburkan uang receh di kerumunan massa. Biasanya uang receh dicampur dengan beras kuning dan kembang. Tradisi turun temurun ini masih bertahan di tengah masyarakat Kendal, Jawa Tengah, kendati zaman telah modern.

Dalam tradisi tebar uang receh ini, uang yang lazim digunakan pecahan Rp 100, Rp 200 dan Rp 500 bahkan recehan Rp 1.000. Ada pula uang kertas yang digulung dan dimasukkan ke dalam sedotan, agar mudah disebar.

Udik-udikan sudah dikenalkan sejak dahulu. Dimana orang tua kita mengajarkan untuk berbagi dan bersedekah kepada tetangga.

 

Ini yang menjadikan anak-anak ikut berebut koin yang disebar oleh orang yang punya hajat.

Dari tradisi inilah berkembang, udik-udikan tidak hanya dilakukan saat-saat tertentu saja, namun juga saat ada acara sedekah bagi warga yang mampu, maupun yang ingin selamatan atau tasyakuran.

 

Bahkan untuk memeriahkan acara dan menggaet peserta lebih banyak, maka dilakukan berbagai cara yang unik.

Seperti yang dilakukan warga jalan Masjid,  Gang Layur RT 10 RW 03 Kelurahan Patukangan, Kecamatan Kendal, dalam rangka selamatan Medun Lemah, Rabu (26/5/2021).

 

Halaman
1 2 3 4
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler