Peringati Hari Lingkungan Hidup, 75 Ekor Anak Penyu Dilepasliarkan di Pantai Kali Buntu

Selasa, 8 Juni 2021 08:42 WIB

Share
Warga Kebumen yang sebagian anak muda melepasliarkan tukik di Pantai Kali Buntu. Foto: Ist/jatengpengprov.co.id

KEBUMEN, POSKOTAJATENG.CO.ID  – Sebanyak 75 ekor tukik atau anak penyu dilepasliarkan di Kawasan Pantai Kali Buntu, Jogosimo, Klirong, Kebumen, Jawa Tengah, yang masuk wilayah konservasi penyu, pada Minggu (6/6/2021). Pelepasan tukik tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2021.


Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, menyatakan, upaya pelepasan tukik menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Cilacap dalam menjaga kelestarian alam.


“Kelestarian alam ini bukan hanya kita yang menikmati, tapi juga anak cucu kita ke depan. Lingkungan dan alam ini harus kita jaga. Apalagi lingkungan yang masuk wilayah konservasi. Ini harus betul-betul kita rawat dan kita jaga, jangan sampai anak cucu kita sudah tidak bisa lagi melihat keindahan penyu di Kebumen,” ucapnya.



Lebih lanjut, kata dia, guna mendukung pelestarian alam di area Pantai Kali Buntu, wilayah konservasi tersebut nantinya akan dipadukan dengan konsep stream estate atau lumbung udang dalam pembangunan kawasan industri. Bahkan, Pantai Kali Buntu juga akan dijadikan sebagai wisata bahari berkelas internasional.
“Di Kali Buntu ini pada bulan Juni Insyaallah akan kita ubah namanya menjadi Kali Ratu. Artinya kita punya

komitmen, sungai kita ubah menjadi ratu. Ratu adalah mahkota yang harus kita jaga. Kita akan ubah Kali Buntu menjadi wisata bahari yang lebih bagus dari Ancol, berkelas internasional,” jelas Arif.


Program Yu Darsi


Sehari sebelumnya, Bupati Arif telah meluncurkan program Pembentukan Desa Mandiri Konservasi “Yu Darsi” atau Ayo Sadar Konservasi yang dilanjutkan dengan aksi penanaman 100 ribu bibit mangrove dan pelepasan 50 ekor burung di Muara Kali Ijo Desa Ayah, Kecamatan Ayah.



Menurutnya, konservasi lingkungan, khususnya di bibir pantai Kebumen dibutuhkan untuk mencegah abrasi dan mengantasipasi tsunami. Mangrove dipilih karena relatif lebih murah dan membantu kelestarian lingkungan.


“Menahan abrasi, lingkungan terjaga dan murah. Bayangkan kalau harus menggunakan batu penghalang atau coreder. Tentunya, harganya cukup mahal dan oksigennya tidak terpenuhi dengan bagus,” jelasnya.
Tak hanya itu, hutan mangrove juga bisa menjadi daya tarik sendiri bagi para wisata untuk datang ke Kebumen. Artinya, mangrove memiliki nilai fungsi luar biasa, mulai dari fungsi ketahanan lingkungan, hingga fungsi ekonomi.


“Maka untuk ke depan wisata hutan mangrove ini perlu dikembangkan, jalan masuknya akan ditambah dengan baik. Kedua, seperti kano atau kapal bisa dinikmati bersama keluarga baik untuk sport atau rekreasi, dan ketiga, di sini juga sudah tumbuh pedagang di luar, tinggal ditata dengan baik,” imbuhnya. (Aji/jtp)

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler