Romo Benny: Karakter Tokoh pada Film Anak Harus Diciptakan secara Kuat

Rabu, 28 September 2022 20:35 WIB

Share
Romo Benny saat menyampaikan materi dalam FGD film anak sebagai pendukung buku ajar Pancasila. Foto: Ist
Romo Benny saat menyampaikan materi dalam FGD film anak sebagai pendukung buku ajar Pancasila. Foto: Ist

JAKARTA, JATENG.POSKOTA.CO.ID - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo mengatakan, pentingnya penokohan atau karakter dalam membuat film yang bisa membangun kecintaan anak-anak terhadap daya baca buku, khususnya buku bahan ajar Pancasila. 


Hal itu disampaikan Benny dalam Focus Group Discussion (FGD) ''Review Bahan Pendukung Kajian Pembinaan Ideologi Pancasila'' yang diadakan oleh Kedeputian Bidang Pengkajian dan Materi di Jakarta, Selasa (27/9/22). Akan ada dua film pendek dan satu video animasi bagi anak-anak SD dari kelas 1 sampai 3 yang dicanangkan akan dibuat sebagai bahan pendukung dari buku bahan ajar Pancasila.



Romo Benny menyampaikan, pendidikan harus menciptakan ekosistem yang baik, jika dari film maka dimulai dari judul, kemudian mampu membuat tokoh idola yang menjadi dambaan anak-anak. Romo mencontohkan seperti film Si Unyil dimana dari film tersebut, anak-anak dibangun karakternya dengan dikenalkan mana hal yang baik dan yang buruk, sikap jangan berbohong, bertanggung jawab dan lain-lain. 

“Seperti dalam teori psikologi, kan anak harus diajarkan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, sikap jangan berbohong atau jujur, pertemanan dan lain-lain. Jadi pertama, kekuatan kita adalah kekuatan tokoh, dari karakter-karakter itu yang penting adalah story. Kedua, siapa yang akan menjadi bintangnya itu yang diharapkan menjadi idola anak-anak,'' ujar pakar komunikasi itu.

Namun, Benny  juga menyampaikan pesan bahwa di era yang serba digital, perlunya menanamkan kecintaan anak akan budaya atau sejarah bangsa lewat film yang dikemas secara menarik.

 

 “Kita menghadapi anak-anak dalam era digital dalam era global, bagaimana anak-anak memiliki eksistensi dan memelihara budaya kita, artinya kita beradaptasi akan globalisasi, tapi tetap memiliki eksistensi budaya kita, jadi bagaimana ini menarik, fun, lucu, dialog yang menarik dengan bahasa anak dan dialek kedaerahan, bikin se-Indonesia, bikin yang orisinil, karena yang orisinil itu menarik, maka pemainnya cari anak-anak daerah,'' tuturnya.

Lebih lanjut, selain dikemas menarik untuk anak-anak, Romo Benny menekankan film pendek dan video animasi yang dibuat harus membawa narasi yang dikaitkan dengan tantangan zaman, seperti krisis pangan, krisis lingkungan hidup dan krisis finansial. (Aji)

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar