Tingkatkan Kapasitas Usaha, Tim Pengabdian Masyarakat USM Dampingi Pembatik Difabel Blora Mustika

Sabtu, 1 Oktober 2022 10:02 WIB

Share
Tim pengabdian masyarakat USM saat berpose bersama pembatik difabel Blora, dan potret usaha batik DBM. Foto-foto: Ist
Tim pengabdian masyarakat USM saat berpose bersama pembatik difabel Blora, dan potret usaha batik DBM. Foto-foto: Ist
Tim pengabdian masyarakat USM saat berpose bersama pembatik difabel Blora, dan potret usaha batik DBM. Foto-foto: Ist

BLORA, JATENG.POSKOTA.CO.ID - Tim pengabdian dari Universitas Semarang (USM) yang diketuai oleh Prof Dr Kesi Widjajanti MM melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM). 


Adapun kelompok sasaran dalam kegiatan pengabdian ini adalah kelompok pembatik Difabel Blora Mustika (DBM) di Blora, Jawa Tengah, Senin (12/9).


Menurut Prof Kesi, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah penguatan manajemen usaha dan peningkatan inovasi keberagaman produk batik difabel Blora.  Mitra merupakan kaum difabel yang membentuk komunitas difabel yang diberi nama Difabel Blora Mustika.



DBM terdiri atas 50 orang anggota difabel pengrajin batik dan yang aktif membatik sekitar 10 orang. Berdasarkan analisis situasi, kelompok pembatik difabel Blora memiliki permasalahan dalam aspek produksi dan manajemen usaha (keuangan dan pemasaran). Oleh karena itu,  lanjut Prof Kesi, kegiatan pengabdian ini difokuskan pada tiga aspek yaitu aspek produksi, aspek keuangan, dan aspek pemasaran. 


''Permasalahan dalam aspek produksi yaitu hanya mampu membuat produk berupa lembaran-lembaran kain batik. Kain batik tersebut memiliki desain yang monoton, tidak memperhatikan selera pasar, kurang modern dan tidak mengikuti fashion. Kejenuhan pasar tersebut menyebabkan produk batik DBM tidak mampu bersaing di pasar, dan menurunkan omzet penjualan,'' kata Kesi dalam siaran persnya, Sabtu 1 Oktober 2022.



Prof Kesi memaparkan, selain itu dalam proses membatik, terutama untuk batik cap, mitra hanya menggunakan kertas karton yang dibentuk pola dan maksimal hanya bisa dipakai untuk membuat 100 batik karena mudah rusak. 


Pembuatan motif dengan kertas bagi kaum difabel sangat susah terlebih jika motif yang dibuat terlalu kecil. Untuk mendukung penciptaan keanekaragaman produk dan pengembangan motif, mitra memerlukan sebuah alat cap batik (cetak logam). Alat tersebut akan memudahkan para difabel dalam proses produksi dan mempercepat waktu pembuatan motif batik. 


''Permasalahan aspek pemasaran yaitu jangkauan pemasaran mitra yang masih sangat terbatas. Mayoritas dalam memasarkan produk mitra hanya menunggu konsumen yang datang dan melakukan pemasaran dari mulut ke mulut. Kurangnya keterampilan dalam penggunaan Teknologi Informasi serta mitra belum mempunyai strategi khusus untuk memasarkan produknya,'' tandasnya.



Sedangkan permasalahan pada aspek keuangan, lanjut dia, yaitu dalam hal pengelolaan keuangan, Pembukuan keuangan hanya berupa catatan-catatan dalam kertas, tidak tertata rapi dan tidak mampu meng-cover semua transaksi keuangan. 
Dijelaskannya, kegiatan pengabdian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada aspek produksi yaitu Fasilitasi Alat Cap Batik (Cap Logam), kompor, kain, water glass dan Pelatihan serta dan Workshop Inovasi Keberagaman Desain dan Produk Batik. 


Selain itu, kegiatan pengabdian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada aspek pemasaran yaitu Pelatihan Pemasaran Online dan penggunaan Teknologi Informasi, Pembukaan Kesempatan Kerjasama dengan berbagai pihak untuk menambah event-event pameran  dan pembukaan chanel distribusi pasar baru. 
Sedangkan kegiatan pengabdian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pada aspek keuangan meliputi Pelatihan pembukuan dan pengelolaan keuangan untuk UMKM dan Pelatihan penentuan harga jual produk.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar