Twitter Luncurkan Birdwatch, Lawan Hoaks yang Beredar

Style —Rabu, 27 Januari 2021 17:53 WIB
Editor: Sania
    Bagikan:  
Twitter Luncurkan Birdwatch, Lawan Hoaks yang Beredar
Birdwatch Twitter. foto Twitter

POSKOTAJATENG

Twitter terus mengembangkan fitur-fitru yang ada di dalamnya. Saat ini aplikasi berwarna biru ini meluncurkan fitur baru bernama Birdwatch. Fitur ini memudahkan pengguna untuk mendeteksi misinformasi alias Hoaks.

Dikutip dari Reuters, Selasa (26/1/2021), Program ini memungkinkan pengguna menandai cuitan yang mereka yakini menyesatkan, dan menulis catatan untuk memberikan konteks.

Birdwatch ada di bagian terpisah dari Twitter (twitter.com/i/birdwatch), dan hanya peserta percontohan, yang mendaftar ke program ini, yang akan menulis pos yang mengidentifikasi dan membantah kesalahan informasi.

BACA JUGA : Viral di TikTok, Cowok Minta Maaf ke Pacar Lewat Transfer M-Banking

Catatan mereka awalnya tidak akan terlihat di Twitter untuk pengguna di luar grup percontohan, tetapi akan terlihat di situs Birdwatch.

Twitter mengharapkan sebanyak 1.000 hingga 100.000 orang dapat bergabung dalam Birdwatch secara bergilir dan tidak akan dibayar.

“Pada akhirnya kami bertujuan untuk membuat catatan terlihat langsung di Tweet untuk pemirsa Twitter global, ketika ada konsensus dari sekumpulan kontributor yang luas dan beragam,” kata Wakil Presiden Produk Twitter Keith Coleman dalam posting blog.

BACA JUGA:  Fatin Shidqia Bahagia di Antara Komunitas Fans Ada yang Berjodoh

Nantinya, Peserta juga dapat menilai catatan dari kontributor lain.

“Kami tahu ada sejumlah tantangan untuk membangun sistem berbasis komunitas seperti ini – dari membuatnya tahan terhadap upaya manipulasi hingga memastikannya tidak didominasi oleh mayoritas sederhana atau bias berdasarkan distribusi kontributornya,” kata Coleman.

,

Meski demikian, platform sosial media itu yakin dengan Birdwatch yang dapar menangani Hoaks.

“Kami yakin pendekatan ini memiliki potensi untuk merespons dengan cepat ketika informasi yang menyesatkan menyebar, menambahkan konteks yang dipercaya orang dan dianggap berharga,” jelas Coleman.

Sebagai informasi, Twitter dan perusahaan media sosial lainnya berada di bawah tekanan untuk memerangi informasi yang salah di platform mereka. Twitter tahun lalu mulai menambahkan label dan peringatan tentang misinformasi di situs tersebut, termasuk tentang pandemi COVID-19 dan pemilu AS

    Bagikan:  

Berita Terkait