Pemkot Pekalongan Kampanyekan Program POPM, Komitmen Basmi Penyakit Kaki Gajah Sampai Tuntas

News —Kamis, 18 Februari 2021 17:27 WIB
Editor: Aji
    Bagikan:  
Pemkot Pekalongan Kampanyekan  Program POPM,  Komitmen Basmi Penyakit Kaki Gajah Sampai Tuntas
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Dr Slamet Budiyanto SKM MKes menyampaikan program POPM. Foto: Simat

POSKOTAJATENG, PEKALONGAN - Pemerintah Kota Pekalongan terus mengkampanyekan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) untuk mengatasi penyakit filarisis atau kaki gajah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Dr Slamet Budiyanto SKM MKes mengungkapkan, program POPM telah dua kali dilaksanakan guna membasmi penyakit kaki gajah sampai tuntas.


Di pelaksanaan periode pertama di tahun 2011-2015 atau selama 5 tahun telah mengawali pelaksanaan pemberian POPM kaki gajah. Namun, dari hasil tes, ternyata angka mikro filaria masih diatas angka satu persen yang artinya Kota Pekalongan masih masuk kategori endemis filariasis dan perlu mengulangi kegiatan POPM selama dua tahun.


Selanjutnya, di dua tahun berikutnya yakni tahun 2017-2018,POPM kembali dilaksanakan. Kendati demikian, di tahun tersebut belum memenuhi target sasaran,sehingga di tahun 2021-2022 ini diharapkan POPM dapat berjalan sukses untuk membasmi kaki gajah hingga tuntas dan Pekalongan bebas dari penyakit tersebut.


Filariasis atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit kaki gajah, masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia, tak terkecuali Kota Pekalongan. Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing jenis filaria pada pembuluh getah bening yang dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui gigitan nyamuk.

Dari hasil survei Kementerian Kesehatan, Kota Pekalongan tercatat menjadi salah satu wilayah yang masih endemis di Jawa Tengah.
Masih tingginya kasus filariasis tersebut membuat Pemerintah Kota Pekalongan melalui dinas kesehatan setempat terus berkomitmen membasmi penyakit tersebut melalui sosialisasi dan advokasi eliminasi filariasis secara menyeluruh untuk mempercepat terwujudnya Kota Pekalongan bebas filariasis pada tahun 2021 ini.

Survei Darah Jari


Budi memaparkan,bahwa kasus filariasis ditemukan pertama kali di tahun 2002 di kelurahan Kauman dan Tegalrejo dalam kondisi kronis(pembengkakan di kaki kiri). Di tahun 2004-2009 kembali dilakukan Survei Darah Jari (SDJ) filariasis di beberapa kelurahan, kemudian di tahun 2010 ditemukan kembali di beberapa kelurahan dengan jumlah kasus total 402 klinis dan 40 kasus kronis. Salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya kasus filariasis di Kota Batik tersebut,lanjutnya,adalah kepatuhan masyarakat dalam minum obat filariasis yang masih rendah yaitu di tahun 2011 sebesar 63%, tahun 2012 60%,2013 sebesar 50%.


“Selain itu, disebabkan karena terlalu lama pelaksanaan sehingga ada faktor kejenuhan, dan masyarakat masih menganggap filariasis ini bukan sesuatu masalah yang serius. Ini yang harus ditekan sesuatu yang bukan masalah serius. Oleh karena itu, kami sudah mulai on going mempersiapkan pelaksanaan POPM di tahun ini yang rencananya dijadwalkan Bulan Maret-April,lebih cepat lebih baik,menunggu koordinasi lebih lanjut bagaimana pelaksanaannya di tengah masyarakat saat pandemi Covid-19 seperti ini agar semuanya tetap aman dan lancar baik petugas maupun masyarakat sebagai penerima POPM,”jelasnya.


Sementara itu, mewakili Plh Walikota drg Agust Marhaendayana selaku Asisten Administrasi,MM menegaskan, program POPM yang dimulai di tahun 2021 ini jangan sampai gagal untuk ketiga kalinya. Oleh karenanya, agar program POPM ini sukses, dibutuhkan komitmen bersama antar seluruh masyarakat untuk bisa mendukung program tersebut dengan mau minum obat filariasis.

“Kami tidak ingin kegagalan POPM untuk ketiga kalinya. Oleh karena itu, harus ada komitmen bersama yang tidak hanya dari jajaran Dinas Kesehatan tetapi seluruh masyarakat baik tokoh agama,tokoh masyarakat bisa membantu mensosialiasikan dan mendukung tercapainya Kota Pekalongan bebas filariasis ini,” tuturnya.Simat

    Bagikan:  

Berita Terkait