Mendengar Kata Pelakor, Alasan Kenapa Cuma Wanita yang Selalu Dipojokkan?

Opini —Jumat, 19 Februari 2021 15:42 WIB
    Bagikan:  
Mendengar Kata Pelakor, Alasan Kenapa Cuma Wanita yang Selalu Dipojokkan?
(Foto: kartunkuhd.blogspot.com)

POSKOTA JATENG,


Jagat dunia maya khususnya di Indonesia saat ini sedang dihebohkan oleh pemberitaan yang melibatkan Ayus personil grup gambus Sabyan yang notabene adalah seorang pria beristri yang sedang tersandung kasus dugaan perselingkuhan dengan sang vocalis, Nissa.

Saking gemparnya kasus ini di seantero negeri, sampai saat ini tagar terkait berita ini sedang menjadi trending topic nomor satu di twiter.  

Terlepas dari kasus yang kini sedang banyak diperbincangkan ini, ada yang ‘menarik’ dari cara pandang netizen dalam menangapi kasus-kasus semacam ini sebelumnya. Sudah sejak lama, netizen kerap menghakimi perempuan yang mereka labeli sebagai perebut laki orang (pelakor) dengan beribu hujatan sedemikian rupa tanpa kenal ampun.


BACA JUGA: Amanda Manopo Unggah Foto Berhijab, Warganet: Doakan Dapat Hidayah

[page-pagination]

,

Ada yang menyebut perempuan nggak tahu diri, dibilang perempuan “kok bego banget mau-maunya jadi selingkuhan-lah”, dilabeli sebagai pelacur, disumpahin kena azab dan berbagai hujatan lainnya.

Istilah pelakor dengan mudahnya disematkan kepada perempuan-perempuan yang menjadi partner selingkuh si pria. Secara tidak langsung kata ‘perebut’ ini telah menimbulkan aroma maskulinitas yang kuat.

Permasalahan utamanya adalah, pada setiap kasus dugaan perselingkuhan yang kerap terjadi di negara kita ini, kenapa hanya sosok perempuan yang kesannya paling aktif, dengan mencuri, dan mengejar-ngejar suami orang?.

Perlu digaris bawahi, proses perselingkuhan itu adalah sebuah tindakan sadar yang dikerjakan oleh dua insan manusia, bukan hanya sosok perempuan saja. Apakah laki-laki cukup bersih dan tidak bersalah dalam sebuah kasus perselingkuhan?.


BACA JUGA: Sinetron Buku Harian Seorang Istri Ditegur KPI , Tampilkan Adegan Dewasa

[page-pagination]


,

Perselingkuhan itu memang bukan hal terpuji, bahkan sebaliknya, itu adalah perbuatan yang tercela. Tapi dengan menganggap perempuan sebagai satu-satunya pihak yang paling salah, rasanya tidak adil. Jika selingkuh itu sebuah perbuatan tercela, maka keduanya tentu sama-sama tercela bukan?.

Jangan karena salah satu pihak telah diikat oleh institusi pernikahan, maka kesalahan ditimpakan sepenuhnya kepada pihak lain.

Jangan karena pihak lainnya adalah seorang perempuan, jadi siapa pun berhak menghujat dan melemparkannya sampai ke titik terendah. Jadi bagaimana kabarnya, dengan ketidaksetiaan sang suami?. Apakah itu bukan perbuatan tercela?. 

Jika hidup adalah sebuah persimpangan antara salah dan benar, kenapa jika ada yang bersalah tidak kita nasihati degan santun, tanpa menghujaninya dengan beribu hujatan dan makian.


Editor: Sania
    Bagikan:  

Berita Terkait